Beji Antaboga, Wisata Religi di Banyuwangi Jawa Timur

by
wisata religi banyuwangi

Keharmonisan umat beragama di Indonesia tercermin saat mengunjungi Beji Antaboga. Sebuah tempat wisata sekaligus menjadi tempat ibadah semua agama di Indonesia, terletak di lereng Gunung Raung Banyuwangi.

Dari pusat Kota Banyuwangi menuju Beji Antaboga berjarak sekitar 45 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 2 jam perjalanan.

Berdiri di lahan seluas 3 hektare dan menempati kawasan Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Glenmore, Dusun Gunungsari, Desa Sumbergondo, Kecamatan Glenmore, semua tempat peribadatan ada. Mulai dari Hindu, Islam, Katolik, Kristen, Budha, hingga Konghuchu berdiri di sini.

Seluruh tempat ibadah ini dibangun menyatu dengan lingkungan alam. Yaitu hutan pinus dan bebatuan yang membentuk gumuk (gundukan) batu.

Bagi perempuan yang sedang menstruasi tidak diperbolehkan untuk masuk ke Antaboga dan bagi pengunjung yang bercelana atau rok pendek disediakan kain penutup. Saat menapaki pintu masuk bagian dalam, pengunjung akan disambut oleh seorang penjaga.

“Dulunya di sini dikenal Pura Anantha Boga karena hanya ada tempat beribadah bagi umat Hindu. Setelah seluruh tempat ibadah semua agama ada diganti Beji Antaboga,” kata Kadek, salah seorang penjaga, Sabtu (6/4/2019).

“Kalau Anantha Boga kesannya kan lebih ke Hindu. Kalau Antaboga lebih nasional,” lanjutnya.

Dalam mitologi Hindu, antaboga berarti Dewa Ular Naga Besar yang dikisahkan hidup di dasar bumi. Ada yang menyebut, jika anta adalah tempat, dan boga adalah makan. Dalam istilah Jawa disebut ontobogo, artinya ular raksasa.

Antaboga dalam mitologi Bali, disebut sebagai dewa ular raksasa yang hidup didasar bumi. Ada juga yang menyebut anta sebagai tempat dan boga yang berarti makan.

Antaboga sendiri dipercaya sebagai tanah tertua dengan tanda 5 pohon besar yang menyatu dan berdiri di atas batu. Yaitu pohon apak yang diapit dua pohon beringin di sisi kanan-kirinya.

“Pohon besar itu simbol Antaboga. Akarnya menyatu semua, kalau batangnya masih 2 yang menyatu,” kata bapak dua anak itu.

Lima pohon itu posisinya berada di tengah dan dijadikan sebagai Pura Antaboga tempat beribadah Umat Hindu. Di sisi selatan terdapat patung Nyai Roro (Segara) Kidul dan patung Dewi Kwan Im berada di sisi utaranya, simbol bagi umat Buddha dan Konghucu.

Sekitar 20 meter dari patung Dewi Kwan Im, terlihat patung Bunda Maria, Yesus, dan Bunda Veta, sebagai simbol umat Kristen dan Katolik. Dibangun terpisah tapi tidak jauh.

Sedangkan tempat ibadah Umat Islam, musala berada di selatannya patung Nyai Roro Kidul yang dibawahnya terdapat sebuah kolam atau patirtan.

“Tempat-tempat sembahyang ini tidak ada istilahnya pembatasan semua menyatu jadi satu. Sebagai simbolnya Bhinneka Tunggal Ika,” kata pria yang berasal dari Kuta, Bali.

Di area Antaboga, kata pria kelahiran tahun 1975 ini, terdapat 29 sumber mata air (tirta) untuk ritual pengambilan air suci, pengobatan maupun mandi. Namun, tidak diperbolehkan kepada pengunjung yang mandi menggunakan sabun, sampo atau pasta gigi.

Sebelum memulainya, dia menyarankan agar berdoa terlebih dahulu sesuai keyakinan dan agama masing-masing.

“Ada kolam naga, di atas sana, tidak boleh untuk mandi. Yang untuk mandi yang bawah aja,” sebutnya.

Sejumlah patung lainnya, seperti Dewa Siwa terdapat di sebelah barat pohon besar, sementara patung Lembu Nandini dibangun pada elevasi tanah tertinggi Beji Antaboga di atas gumuk batu.

Untuk menuju ke tempat itu, pengunjung akan melewati jalanan dengan kontur bebatuan (makadam) dan menonjol, sekitar 450 meter. Kendati demikian, suasana yang sejuk dan udara yang segar terasa.

Saat pengunjung memasuki pintu masuk bagian dalam, aroma dupa mulai tercium di bawah rindangnya pepohonan pinus dan kicauan burung-burung. Menyuguhkan ketenangan.

loading...